Bagikan 15 Al-Qur’an di Lubuk Buaya, Muhidi: Anak Muda Harus Pegang 4 Kunci Sukses Ini

Ketua DPRD Sumbar Muhidi saat membagikan Al Quran 

PADANG, politicnewss.id – Suasana penuh semangat terasa di Masjid Al Furqan, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah. Di tengah rangkaian kegiatan Ramadan yang diikuti anak-anak dan remaja, Ketua DPRD Sumatera Barat Muhidi menyerahkan 15 Al-Qur’an kepada para pemenang lomba keagamaan yang digelar untuk memeriahkan bulan suci.

Penyerahan Al-Qur’an itu bukan sekadar hadiah, tetapi simbol harapan agar generasi muda semakin dekat dengan Al-Qur’an dan menjadikan masjid sebagai pusat belajar, beribadah, sekaligus membangun masa depan.

Baca Juga : PAP Bukan Pajak Baru, DPRD Sumbar Gencarkan Sosialisasi di Sijunjung

Baca Juga : Pertumbuhan Masjid Meningkat, Wakil Ketua DPRD Sumbar Soroti Minimnya Jamaah di Luar Ramadan

Di hadapan anak-anak yang memadati masjid, Muhidi menyampaikan pesan yang menggugah tentang empat kunci utama meraih kesuksesan dalam hidup.

“Kalau ingin sukses, ada empat syarat yang harus dipegang,” ujarnya dengan penuh semangat.

Pertama, memperbanyak ilmu.

Menurutnya, ilmu adalah cahaya yang menuntun seseorang dalam menjalani kehidupan. Tanpa ilmu, seseorang akan kesulitan menentukan arah.

“Ilmu itu tidak datang sendiri, tapi harus kita datangi. Artinya kita harus rajin belajar, rajin ke sekolah, disiplin dan tidak malas,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa generasi saat ini jauh lebih beruntung dibandingkan masa lalu. Jika dahulu para ulama harus berjalan ratusan kilometer hanya untuk mencari guru, kini akses pendidikan jauh lebih mudah.

“Sekarang pendidikan dari SD sampai SMA sudah difasilitasi secara gratis. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” pesannya.

Kedua, memiliki keterampilan atau skill.

Muhidi menekankan bahwa ilmu harus diiringi dengan kemampuan nyata agar seseorang mampu berkarya dan mandiri.

Ia mencontohkan siswa di sekolah kejuruan seperti SMK yang telah mampu menghasilkan produk berkualitas, bahkan sebelum lulus sekolah.

“Di SMK mereka sudah bisa membuat kue yang enak dan bermutu. Artinya, setelah tamat sekolah mereka sudah bisa membuka usaha sendiri. Itulah pentingnya skill,” ujarnya.

Ketiga, kesungguhan dan kerja keras.

Dalam kesempatan itu, Muhidi juga berbagi kisah perjuangannya sejak kecil.

“Orang tua saya bukan orang berada. Saat SD saya sudah membantu mencangkul sawah. Waktu SMP, ayah saya tukang kayu dan saya ikut membantu mengatam kayu sepulang sekolah. Saat SMA saya juga bekerja di pabrik karet,” kenangnya.

Ia mengutip pepatah Minangkabau yang sarat makna perjuangan:

Barakik-rakik ka hulu, baranang-ranang ka tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

“Siapa yang sungguh-sungguh berjuang, suatu hari pasti akan menikmati hasil perjuangannya,” tegasnya.

Saat ini, lanjutnya, pemerintah juga terus berupaya membuka peluang bagi generasi muda melalui berbagai program pemberdayaan, termasuk pelatihan hilirisasi pertanian bagi lulusan perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan.

“Mereka kita latih selama seminggu, lalu kita bantu modal agar bisa memulai usaha sendiri,” jelasnya.

Keempat, menjadi manusia yang bermanfaat.

Muhidi menutup pesannya dengan sebuah nilai yang paling penting dalam kehidupan.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Apapun profesi kita nanti, di mana pun kita berada, kita harus bisa memberi manfaat bagi sesama,” katanya.

Ia berharap Masjid Al Furqan terus menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pembinaan generasi muda. Bagi Muhidi, masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga tempat menanamkan nilai, membangun mimpi, dan melahirkan generasi masa depan yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Baca Juga : Safari Ramadhan di Pauh, Evi Yandri Serahkan Bantuan Rp20 Juta untuk Mushalla Al-Jannah

Baca Juga : Serap Aspirasi Warga Sungai Kamuyang, Irsyad Safar Fokus Pertanian, Infrastruktur, dan Pariwisata