Api Mengamuk Damkar Terlambat Tiba, Rumah Warga Agam Ludes, Warga Berjuang Sendiri

 

Ilustrasi mobil damkar rusak

AGAM, politicnewss.id — Senja belum sepenuhnya hilang ketika kobaran api tiba-tiba memecah ketenangan Jorong Ateh, Nagari Koto Gadang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Kamis (2/4/2026). Sekitar pukul 17.30 WIB, si jago merah mengamuk tanpa ampun, melahap satu unit rumah permanen milik Murniati (62), warga suku Chaniago.

Teriakan panik warga menggema. Asap hitam membumbung tinggi, sementara api menjalar cepat, seolah tak memberi ruang sedikit pun untuk diselamatkan. Dalam hitungan menit, rumah beserta seluruh isinya berubah menjadi lautan api.

Di tengah kepanikan itu, Ayani (68), suami pemilik rumah, menjadi korban. Ia mengalami luka bakar saat berusaha menyelamatkan harta benda. Kini, ia harus menjalani perawatan di Puskesmas Pasar Ahad Maninjau.

Baca Juga : Isu Kenaikan BBM Picu Antrean, Gubernur Mahyeldi Imbau Warga Sumbar Tetap Tenang

Baca Juga : Viral Parkir Rp20 Ribu di Pantai Carocok, Dishub Pessel Buka Suara: Itu Bukan Tarif Resmi!

Warga setempat, termasuk Faisal, hanya bisa menyaksikan bagaimana api dengan ganas meluluhlantakkan bangunan. “Api cepat sekali membesar, tidak bisa dibendung,” ujarnya dengan nada getir.

Namun yang paling menyayat, harapan warga akan datangnya bantuan seolah pupus. Mobil pemadam kebakaran yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Warga mengaku sudah berulang kali menghubungi petugas sejak awal kejadian, namun waktu terus berjalan, dan api semakin tak terkendali.

Baru sekitar pukul 20.55 WIB—lebih dari tiga jam setelah kebakaran terjadi—armada pemadam akhirnya tiba di lokasi. Saat itu, yang tersisa hanyalah puing-puing hangus dan bara yang masih menyala.

Fakta di balik keterlambatan ini pun terungkap dan menimbulkan keprihatinan mendalam. Anggota DPRD Kabupaten Agam dari Fraksi Demokrat, Alber, menyebut armada pemadam dalam kondisi memprihatinkan.

“Dua unit mobil damkar rusak, sementara dua lainnya kehabisan bahan bakar. Ini kondisi yang sangat serius,” tegasnya.

Ironisnya, salah satu mobil pemadam yang sempat bergerak menuju lokasi justru dilaporkan mogok karena kehabisan bahan bakar di kawasan Siguhung. Sebuah fakta yang kian menambah luka di tengah musibah.

Tanpa bantuan memadai, warga terpaksa berjibaku sendiri. Dengan ember, selang seadanya, dan alat apa pun yang bisa digunakan, mereka berjuang melawan kobaran api hingga malam hari. Sebuah perjuangan penuh keterbatasan, melawan bencana yang tak seimbang.

Baca Juga : Diserbu 10.500 Wisatawan, Bupati Eka Putra Turun Langsung Pastikan Kenyamanan di Istano Basa Pagaruyuang

Baca Juga : Bupati Lima Puluh Kota H. Safni Sikumbang Sampaikan Permohonan Maaf, Serahkan Kasus ke Polda Sumbar

Tak hanya rumah yang ludes, satu unit mobil dan sepeda motor juga ikut menjadi korban keganasan api. Kerugian materi ditaksir mencapai angka yang tidak sedikit.

Kini, peristiwa ini menjadi sorotan tajam masyarakat. Bukan hanya tentang kebakaran, tetapi juga tentang kesiapsiagaan yang dipertanyakan. Warga berharap tragedi ini menjadi titik balik bagi Pemerintah Kabupaten Agam untuk berbenah—agar di masa depan, tidak ada lagi warga yang harus melawan api sendirian, tanpa kehadiran negara di saat paling genting.