![]() |
| Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri saat menjemput Faliq untuk di obati |
PADANG, politicnewss.id – Kisah pilu kembali terungkap di Kota Padang. Seorang anak berusia 12 tahun bernama Faliq, yang masih duduk di bangku SD kelas V, terpaksa dirantai oleh keluarganya akibat mengalami gangguan kejiwaan. Kondisi memilukan ini langsung mengetuk nurani Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman, bersama Yayasan Pelita Jiwa Insani (YPJI).
Rabu (4/2/2026), Evi Yandri dan tim YPJI menjemput langsung Faliq dari rumah orang tuanya di kawasan Pasar Lalang, Kecamatan Kuranji, untuk kemudian dibawa menjalani perawatan dan pengobatan intensif.
Saat dijemput, Faliq ditemukan dalam kondisi terantai. Orang tuanya mengaku terpaksa melakukan hal tersebut karena perilaku Faliq sudah meresahkan warga sekitar. Ia kerap mengambil barang-barang milik orang lain dan menjualnya, sementara kondisinya terus memburuk dari hari ke hari.
Baca Juga : Tol Sicincin–Bukittinggi Dikebut, Ditargetkan Beroperasi 2031, Peluang Melesat ke 2029
Baca Juga : Integrasi Teknologi di Pesantren: Antara Peluang Transformasi dan Tantangan Nilai
Kondisi ini akhirnya diketahui pihak kelurahan yang kemudian melaporkan ke tim Evi Yandri dan YPJI, hingga akhirnya langkah penyelamatan pun dilakukan.
Evi Yandri mengungkapkan, gangguan kejiwaan yang dialami Faliq diduga kuat dipicu oleh kebiasaan menghirup lem, yang dampaknya tidak kalah berbahaya dari narkoba.
“Menghisap lem itu efeknya sama dengan narkoba. Bisa merusak psikologi, mental, dan memicu gangguan jiwa. Ini sangat berbahaya, apalagi bagi anak-anak,” tegas Evi.
Ia mengaku sangat prihatin melihat kondisi Faliq yang masih sangat muda, namun harus mengalami perlakuan tidak manusiawi akibat keterbatasan pemahaman dan kondisi keluarga.
“Faliq tidak semestinya dirantai. Ia harus dirangkul, dirawat, dan diobati. Umurnya masih muda, masa depannya masih panjang. Semoga setelah dirawat di YPJI, ia bisa sembuh dan kembali menjalani hidup yang normal,” ujar Evi.
Tak hanya fokus pada pengobatan, Evi Yandri juga menaruh perhatian serius pada masa depan pendidikan Faliq. Ia memastikan YPJI akan berkoordinasi dengan pihak sekolah agar Faliq tetap mendapatkan haknya sebagai anak untuk mengenyam pendidikan.
“Kita akan cari solusi terbaik agar Faliq bisa tetap melanjutkan sekolah. Pendidikan itu penting untuk masa depannya,” tambahnya.
Belajar dari kasus ini, Evi Yandri mengingatkan para orang tua, guru, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai benda sehari-hari yang bisa disalahgunakan anak-anak.
“Menghirup lem, mengonsumsi obat batuk atau obat pereda nyeri secara berlebihan efeknya sama dengan narkoba. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” katanya.
Sementara itu, Ketua YPJI, Syafrizal, menyebutkan bahwa pihaknya pernah menangani kasus serupa. Salah satunya pasien bernama Rival, yang sebelumnya mengalami gangguan kejiwaan akibat narkoba dan kerap mencuri. Kini, kondisi Rival berangsur pulih, lepas dari narkoba, berperilaku baik, dan rajin beribadah.
“Kami berharap Faliq juga bisa pulih seperti Rival,” ujarnya optimistis.
YPJI yang berlokasi di Gunung Sarik, Padang, menerapkan pendekatan holistik dalam perawatan pasien, mulai dari medis, psikologis, hingga spiritual. Setelah menjalani terapi medis di rumah sakit, pasien mengikuti rehabilitasi lanjutan yang mencakup pembinaan mental, ibadah, pola makan bergizi, serta aktivitas fisik dan keterampilan.
Bahkan, pasien yang menunjukkan perkembangan positif juga dibekali pelatihan keterampilan seperti membuat kue, otomotif, hingga barber shop, agar kelak mampu hidup mandiri dan kembali diterima di tengah masyarakat.
Kisah Faliq menjadi pengingat keras bahwa pengawasan dan kepedulian terhadap anak-anak adalah tanggung jawab bersama. Jangan sampai mereka kehilangan masa depan hanya karena kelalaian kita hari ini.
