Iklan

Gubernur Mahyeldi Gaungkan Gerakan Deteksi Dini Kanker di Sumbar: Jangan Tunggu Sakit, Skrining Harus Jadi Budaya

Sabtu, 11 Juli 2026, 9:44:00 PM WIB Last Updated 2026-07-11T14:45:48Z
Gubernur Mahyeldi saat membuka Simposium Awam Kanker 2026: The Journey of Cancer Survivors yang digelar Yayasan Kanker Indonesia 


PADANG, politicnewss.id – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyerukan gerakan besar deteksi dini kanker sebagai langkah nyata menyelamatkan lebih banyak nyawa. Menurutnya, kanker bukan lagi penyakit yang harus ditakuti jika dapat ditemukan sejak stadium awal melalui skrining kesehatan yang rutin dan mudah diakses masyarakat.


Seruan tersebut disampaikan Mahyeldi saat membuka Simposium Awam Kanker 2026: The Journey of Cancer Survivors yang digelar Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Koordinator Sumbar di Hotel Truntum Padang, Sabtu (11/7/2026).


Dalam kesempatan itu, Mahyeldi menegaskan bahwa pencegahan dan deteksi dini merupakan senjata paling ampuh untuk menekan angka kematian akibat kanker. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah, rumah sakit, dunia usaha, perguruan tinggi hingga masyarakat, bersatu menjadikan deteksi dini sebagai gerakan bersama.


"Jangan menunggu muncul gejala. Melalui skrining, kanker bisa ditemukan sejak stadium awal sehingga peluang kesembuhan jauh lebih besar," tegas Mahyeldi.


Ia menilai Sumatera Barat memiliki modal besar untuk memperkuat layanan deteksi dini. Jaringan fasilitas kesehatan yang tersebar, rumah sakit rujukan, tenaga medis yang memadai, hingga dukungan perguruan tinggi dinilai menjadi kekuatan yang harus dimanfaatkan secara maksimal.


Meski pemerintah pusat telah meluncurkan program cek kesehatan gratis sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif, Mahyeldi mengaku pelaksanaannya di Sumbar masih belum optimal.


Berdasarkan laporan yang diterimanya, capaian program tersebut baru berada di kisaran 38 persen. Kondisi itu menunjukkan masih banyak masyarakat yang belum memanfaatkan layanan kesehatan yang telah disediakan pemerintah.


"Kita harus mengetahui apa penyebabnya. Semua pihak harus bergerak bersama agar masyarakat semakin sadar pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini," ujarnya



Untuk mempercepat program tersebut, Mahyeldi mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, pendanaan tidak hanya bergantung pada APBD maupun pemerintah pusat, tetapi juga dapat diperkuat melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) serta dukungan dari Baznas.


"Perusahaan melalui CSR bisa mengambil peran, begitu juga Baznas. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat memperoleh layanan deteksi dini secepat mungkin," katanya.


Mahyeldi juga mengungkapkan, Sumbar saat ini didukung 78 rumah sakit, sekitar 250 puskesmas, lebih dari 9.000 tenaga perawat, dan 1.035 dokter. Seluruh potensi tersebut, menurutnya, harus dioptimalkan agar layanan skrining kanker semakin mudah dijangkau hingga ke daerah-daerah.


Tak hanya itu, ia meminta Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar segera menyiapkan penguatan regulasi untuk mendukung gerakan deteksi dini kanker, mulai dari penerbitan surat edaran hingga penyusunan kebijakan yang lebih komprehensif.


"Saya melihat semangat seluruh pihak sudah sama. Sekarang saatnya mempercepat aksi nyata agar deteksi dini kanker benar-benar menjadi budaya masyarakat Sumatera Barat," ucapnya.


Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Padang, dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, mengatakan simposium ini menjadi momentum memperkuat sinergi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan, deteksi dini, pengobatan, hingga pendampingan bagi pasien dan para penyintas kanker.


Menurutnya, kanker masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia. Namun dengan pemeriksaan sejak dini, penanganan yang tepat, serta dukungan keluarga dan lingkungan, para penyintas memiliki peluang besar untuk hidup sehat, produktif, dan berkualitas.


Ia juga mengingatkan bahwa transformasi layanan kesehatan nasional menempatkan layanan KJSU (Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi) sebagai prioritas, sehingga edukasi kepada masyarakat harus terus diperluas.


Ketua Panitia, Dr. Dolly Nurdin Lubis, menambahkan simposium tersebut menjadi wadah mempererat kolaborasi pemerintah, rumah sakit, organisasi profesi, perguruan tinggi, hingga masyarakat dalam memperkuat upaya penanggulangan kanker di Sumatera Barat.


Rangkaian kegiatan meliputi Simposium Awam Kanker yang diikuti 75 peserta, pelatihan manajemen lesi prakanker bagi sekitar 50 dokter spesialis kebidanan, serta seminar manajemen kekuatan otot dasar panggul yang diikuti para bidan dari berbagai daerah di Sumbar.


"Kami berharap komitmen seluruh pemangku kepentingan semakin kuat sehingga upaya penanggulangan kanker di Sumatera Barat dapat berjalan lebih efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan," tutup Dolly.


Komentar

Tampilkan

  • Gubernur Mahyeldi Gaungkan Gerakan Deteksi Dini Kanker di Sumbar: Jangan Tunggu Sakit, Skrining Harus Jadi Budaya
  • 0

Terkini