![]() |
| kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Edukasi Mitigasi Bencana Berbasis Keluarga bagi Orang Tua Anak Usia Dini |
PADANG PARIAMAN, politicnewss.id — Ketangguhan menghadapi bencana sejatinya dibangun jauh sebelum bencana terjadi. Berangkat dari kesadaran tersebut, para orang tua di Nagari Anduriang mendapat pembekalan khusus mengenai kesiapsiagaan keluarga, terutama dalam melindungi anak usia dini ketika menghadapi kondisi darurat.
Pembekalan itu berlangsung melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Edukasi Mitigasi Bencana Berbasis Keluarga bagi Orang Tua Anak Usia Dini” di Aula Kantor Wali Nagari Anduriang, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dan berlangsung hingga sore. Wali Nagari Anduriang, Henyunis, S.Pd., membuka kegiatan tersebut secara resmi. Sejumlah orang tua mengikuti kegiatan dengan mendapatkan materi, berdiskusi, sekaligus mempraktikkan langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika bencana mengancam.
Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Rismareni Pransiska, M.Pd., bersama tim menghadirkan edukasi yang menempatkan keluarga sebagai titik awal membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
“Ketangguhan menghadapi bencana tidak lahir secara tiba-tiba. Keluarga harus dibekali pengetahuan dan dibiasakan memiliki rencana, sehingga ketika keadaan darurat terjadi, orang tua tidak panik dan dapat mengambil keputusan yang tepat,” menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan tersebut.
Pada sesi pertama, Dr. Serli Marlina, M.Pd., mengajak peserta memahami pentingnya kesiapan sebelum bencana. Materi diarahkan pada pengenalan potensi bahaya yang berada di sekitar lingkungan tempat tinggal, termasuk risiko banjir dan tanah longsor.
Peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai tanda-tanda bahaya, penentuan tempat aman, persiapan keluarga, hingga pentingnya menyediakan Tas Siaga Bencana.
Pembahasan kemudian diarahkan pada posisi orang tua sebagai pihak yang paling dekat dengan anak. Dalam kondisi bencana, ketenangan dan kesiapan orang tua menjadi faktor penting agar anak dapat segera diarahkan ke tempat yang aman.
Sementara itu, Dr. Syahrul Ismet, S.Ag., M.Pd., memberikan materi mengenai perlindungan anak ketika bencana berlangsung maupun setelah keadaan mulai terkendali.
Peserta dibekali pemahaman tentang tindakan menghadapi banjir dan tanah longsor, teknik pendampingan anak ketika evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, menjaga kebersihan, serta langkah-langkah yang diperlukan untuk membantu anak melewati masa setelah bencana.
“Dalam situasi bencana, anak membutuhkan lebih dari sekadar penyelamatan fisik. Mereka juga membutuhkan rasa aman, pendampingan dan perhatian dari orang dewasa di sekitarnya,” ujar pemateri.
Setelah mendapatkan materi, suasana kegiatan semakin interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta menyampaikan berbagai kondisi yang berpotensi terjadi di lingkungan mereka sekaligus mencari langkah yang tepat untuk menghadapinya.
Tak berhenti pada penyampaian teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik kesiapsiagaan keluarga. Dr. Setiyo Utoyo, S.Pd., M.Pd., Dr. Anggarda Paramita Muji, M.Pd., bersama tim mendampingi peserta dalam simulasi dan workshop.
Salah satu praktik yang mendapat perhatian adalah penyiapan Tas Siaga Bencana. Peserta diperlihatkan perlengkapan yang perlu disiapkan dalam kondisi darurat, sekaligus memahami fungsi masing-masing barang dan cara menatanya agar mudah dibawa ketika evakuasi harus dilakukan secara cepat.
Peserta juga mengikuti workshop Papan Siaga Keluarga. Melalui media tersebut, keluarga diajak menyusun rencana tindakan berdasarkan tiga momentum penting: SEBELUM, SAAT, dan SETELAH bencana.
Pendekatan praktik ini menjadi bagian penting karena kesiapsiagaan tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus diterjemahkan menjadi kebiasaan dan rencana nyata di lingkungan keluarga.
“Yang paling penting adalah bagaimana pengetahuan yang diperoleh hari ini bisa dibawa pulang dan diterapkan di rumah. Keluarga harus memiliki kesiapan sederhana yang dapat dilakukan bersama,” ungkap tim pelaksana.
Kegiatan tersebut sekaligus memberikan pesan bahwa anak usia dini merupakan kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih ketika bencana terjadi. Karena itu, kesiapan orang tua menjadi salah satu kunci dalam mengurangi risiko dan dampak bencana terhadap anak.
Dengan edukasi yang dipadukan praktik, para orang tua di Nagari Anduriang diharapkan mampu mengenali ancaman di lingkungan sekitar, menyusun kesiapan keluarga, mengetahui langkah evakuasi, serta memberikan perlindungan kepada anak secara tepat.
Kegiatan ditutup pada sore hari dengan evaluasi dan penutupan. Dari kegiatan tersebut diharapkan tumbuh kesadaran baru bahwa menghadapi bencana bukan sekadar persoalan evakuasi, tetapi tentang membangun keluarga yang siap, tenang, tanggap, dan mampu saling melindungi ketika situasi darurat datang.
