PADANG, politicnewss.id - Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Selama bertahun-tahun, pesantren dikenal sebagai ruang pembentukan akhlak, spiritualitas, dan karakter santri. Namun, seiring perkembangan zaman, wajah pesantren pun turut mengalami transformasi, terutama dalam merespons arus integrasi teknologi digital yang kian tak terelakkan.
Di era modern, khususnya memasuki awal tahun 2026, pesantren tidak lagi hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan tradisional. Pesantren kini dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap relevan, berdaya saing, dan berkelanjutan, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya.
Lima Pilar Pesantren dalam Arus Digitalisasi
Secara fundamental, pesantren berdiri di atas lima unsur utama, yakni kiai atau tuanku, masjid atau surau, rumah kiai, santri, dan asrama. Kelima unsur ini menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan dan kemajuan pesantren. Ketika satu unsur melemah, maka proses pendidikan pesantren tidak akan berjalan secara maksimal.
Kiai atau tuanku berperan sebagai pemimpin dan pusat keteladanan. Ia tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan luas untuk membimbing santri menghadapi tantangan zaman. Dalam konteks digital, kiai dituntut mampu menjadi penjaga nilai sekaligus pengarah pemanfaatan teknologi secara bijak.
Masjid atau surau berfungsi sebagai pusat ibadah dan pendidikan. Dalam tradisi Minangkabau, surau memiliki kedudukan strategis sebagai pusat pembentukan karakter, pendidikan adat, musyawarah, hingga implementasi falsafah hidup Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Meski peran tradisional surau mengalami pergeseran akibat modernisasi dan urbanisasi, gerakan “Babaliak ka Surau” terus digaungkan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut.
Rumah kiai menjadi ruang keteladanan moral, sementara santri merupakan subjek utama pendidikan pesantren. Adapun asrama tidak sekadar tempat tinggal, melainkan laboratorium kehidupan yang melatih kemandirian, kedisiplinan, dan kebersamaan santri selama 24 jam.
Peluang Integrasi Teknologi di Pesantren
Integrasi teknologi menghadirkan peluang besar bagi pesantren. Pemanfaatan e-learning dan Learning Management System (LMS) memungkinkan santri mengakses kitab kuning digital, tafsir, hadis, serta literatur Islam klasik dan kontemporer dari berbagai belahan dunia.
Selain itu, penguatan literasi digital dan keterampilan abad ke-21 menjadi modal penting bagi santri agar mampu bersaing di dunia perkuliahan dan dunia kerja. Di sejumlah pesantren, penguasaan bahasa asing, komunikasi, dan public speaking telah menjadi keunggulan tersendiri. Keterampilan ini membentuk kepercayaan diri santri sekaligus membuka peluang dakwah kreatif melalui media sosial, blog, podcast, dan platform digital lainnya.
Digitalisasi juga berdampak pada efisiensi tata kelola pesantren, mulai dari administrasi, keuangan, hingga pemantauan perkembangan santri. Di bidang dakwah, santri kini dapat memanfaatkan video pendek, konten edukatif, dan multimedia untuk menyebarkan nilai-nilai Islam moderat secara lebih luas dan menarik.
Tantangan Serius yang Mengiringi
Di balik peluang besar tersebut, integrasi teknologi juga menghadirkan tantangan serius. Kesenjangan infrastruktur masih menjadi kendala utama, terutama bagi pesantren di wilayah terpencil yang menghadapi keterbatasan akses internet dan perangkat teknologi.
Kesiapan sumber daya manusia juga menjadi persoalan krusial. Banyak ustaz dan pengelola pesantren memerlukan pelatihan intensif agar mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam kurikulum tradisional secara efektif. Selain itu, rendahnya literasi digital berpotensi menghambat pemanfaatan teknologi ekonomi digital, termasuk fintech syariah.
Tantangan lainnya adalah filtrasi konten dan etika digital. Pesantren dihadapkan pada risiko paparan hoaks, perundungan siber, serta konten media sosial yang tidak sejalan dengan nilai kesopanan dan akhlak. Fenomena tren media sosial, seperti gaya berpakaian dan tarian populer di TikTok, turut memengaruhi sebagian santri, terutama ketika berada di luar lingkungan pesantren.
Menjaga Jati Diri di Tengah Kemajuan
Kekhawatiran terbesar dari integrasi teknologi adalah tergesernya nilai-nilai tradisional pesantren. Buya Hamka pernah menegaskan bahwa agama harus menjadi fondasi utama dalam menuntut ilmu, karena dari sanalah doa dan akhlak tumbuh. Akhlak, menurut beliau, merupakan konsekuensi dari kemajuan perasaan manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
Oleh karena itu, pesantren harus mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan pelestarian nilai akhlak, hubungan emosional guru-murid, serta karakter khas pesantren yang menjunjung tinggi kesederhanaan dan keteladanan.
Sinergi Menuju Pesantren Masa Depan
Integrasi teknologi di pesantren bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada sinergi antara pengelola pesantren, pemerintah, dan berbagai pihak terkait. Dukungan infrastruktur, peningkatan literasi digital, serta kebijakan yang berpihak pada pendidikan pesantren menjadi kunci utama.
Dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi sarana penguat, bukan penggerus, nilai-nilai pesantren. Integrasi yang harmonis diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang berpengetahuan luas, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi serta bersaing di era digital. (Azahra Syahrani Marsel/Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Pengembangan Ilmu Al-Quran (STAI-PIQ)

