PADANG, politicnewss.id — Upaya memperkuat kesadaran orang tua terhadap kesehatan gigi anak usia dini mendapat perhatian serius dari Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Sumatera Barat, Arymbi Pujiastuty. Gagasan tersebut sekaligus mengantarkannya meraih gelar doktor pada Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand).
Gelar doktor itu diraih Arymbi setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor yang digelar di Aula M. Syaaf Fakultas Kedokteran Unand, Kampus Jati, Padang, Senin (24/8/2026). Dalam sidang tersebut, Arymbi memperoleh yudisium Sangat Memuaskan.
Istri Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi itu mengangkat disertasi berjudul “Pengembangan Model Edukasi Parenting Gigi Sehat Berbasis Website Melalui PAUD Holistik Integratif (PAUD HI) untuk Meningkatkan Perilaku Orang Tua dalam Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Usia Dini: Studi pada PAUD di Kota Padang.”
Penelitian tersebut berangkat dari persoalan yang masih kerap terjadi pada anak usia dini, yakni tingginya masalah kesehatan gigi dan mulut, terutama karies pada gigi susu.
Arymbi melihat masih adanya pemahaman di tengah masyarakat bahwa kerusakan gigi susu tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena gigi tersebut pada akhirnya akan tanggal dan digantikan gigi permanen.
Padahal, persoalan gigi pada anak usia dini tidak berhenti pada kerusakan fisik. Jika tidak ditangani, karies dapat menimbulkan rasa sakit, mengganggu aktivitas makan dan mengunyah, memengaruhi asupan gizi, hingga berdampak terhadap kualitas hidup anak.
Kondisi tersebut kemudian mendorong Arymbi menempatkan orang tua sebagai bagian penting dalam upaya pencegahan. Menurutnya, pembentukan kebiasaan menjaga kesehatan gigi anak tidak cukup hanya melalui penyampaian informasi, tetapi juga membutuhkan keterlibatan orang tua dalam membimbing, mengingatkan serta menyediakan lingkungan yang mendukung kebiasaan hidup sehat.
Dalam penelitiannya, Arymbi melihat PAUD sebagai salah satu ruang strategis untuk menjangkau orang tua. Melalui program parenting, edukasi kesehatan gigi dapat disampaikan secara lebih terarah dan terintegrasi dengan pendidikan anak usia dini.
PAUD Holistik Integratif (PAUD HI) dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari penguatan edukasi tersebut karena pendekatannya tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga mencakup aspek kesehatan, gizi, pengasuhan dan perlindungan anak.
Namun, Arymbi menemukan bahwa pola edukasi yang selama ini tersedia masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Materi mengenai kesehatan gigi belum sepenuhnya dikemas secara komprehensif dan interaktif, sementara pola penyampaian konvensional membuat akses informasi bagi orang tua belum maksimal.
Dari persoalan itu kemudian dikembangkan Model Edukasi Parenting Gigi Sehat Berbasis Website. Model tersebut dirancang berdasarkan kebutuhan orang tua atau need assessment sehingga informasi yang diberikan dapat lebih relevan, mudah dipahami, interaktif dan dapat diakses secara fleksibel.
Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu pendekatan yang ditawarkan agar edukasi kesehatan gigi tidak terbatas pada ruang dan waktu. Orang tua dapat memperoleh informasi sekaligus panduan yang dibutuhkan untuk mendampingi anak membangun kebiasaan menjaga kesehatan gigi sejak dini.
Kota Padang dipilih sebagai lokasi penelitian karena masih menghadapi persoalan early childhood caries, di samping memiliki jumlah anak usia dini dan satuan PAUD yang cukup besar. Kondisi tersebut juga dinilai relevan dengan arah pembangunan daerah yang mengembangkan konsep Kota Layak Anak dan Smart City.
Promotor Prof. Nursyirwan Effendi menilai penelitian yang dilakukan Arymbi memiliki relevansi kuat dengan persoalan kesehatan yang ditemukan dalam kehidupan masyarakat.
Menurutnya, peran orang tua sangat menentukan dalam membentuk perilaku anak terhadap kesehatan gigi dan mulut.
“Orang tua tentu memiliki peran yang penting, apakah akan mengabaikan atau tidak tentang kesehatan gigi dan mulut anak usia dini. Perilaku orang tua akan berdampak semakin tingginya angka penyakit gigi dan mulut pada anak usia dini,” ujar Nursyirwan.
Ia mengingatkan bahwa early childhood caries tidak semestinya dipandang sebagai persoalan sederhana. Kerusakan gigi yang tidak mendapatkan perhatian dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Apalagi, anak usia dini belum sepenuhnya mampu merawat kesehatan giginya secara mandiri. Karena itu, keterlibatan dan pendampingan orang tua menjadi faktor penting dalam membangun perilaku hidup sehat sejak masa awal pertumbuhan.
Sidang promosi doktor tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi, Penguji Eksternal Prof. Dr. drg. Sri Susilawati, M.Kes., Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Gigi Unand Dr. drg. Nila Kasuma, M.Biomed., Ketua Sidang Prof. Dr. dr. Rima Semiarty, MARS, Sp.KKP, Sp.O-K, serta jajaran tim promotor dan penguji.
Sebelum sampai pada tahap promosi doktor, Arymbi telah melewati rangkaian proses akademik, mulai dari ujian kualifikasi, ujian usulan penelitian disertasi, seminar hingga ujian pra-promosi.
Setelah mempertimbangkan hasil disertasi, proses pembelaan dalam sidang, laporan tim promotor serta keseluruhan perjalanan akademiknya, tim penguji menetapkan Arymbi memperoleh yudisium Sangat Memuaskan.
Capaian tersebut tidak hanya menjadi penanda keberhasilan Arymbi menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Penelitian yang dihasilkan juga membawa gagasan untuk menghadirkan pendekatan baru dalam edukasi kesehatan gigi anak melalui pemanfaatan teknologi digital.
Model edukasi berbasis website yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi orang tua dan satuan PAUD dalam memperkuat pemahaman serta membangun kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut anak sejak usia dini.
Dengan demikian, edukasi kesehatan gigi tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan sehari-hari yang dimulai dari keluarga dan diperkuat melalui lingkungan pendidikan anak usia dini.
