![]() |
| Ketua DPRD Sumbar Muhidi saat menjadi narasumber bimtek yang diikuti pengelola perpustakaan |
PADANG, politicnewss.id – Arus informasi yang semakin deras di era digital menjadi tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda. Di tengah kondisi tersebut, Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, mengingatkan pentingnya membangun budaya literasi sebagai benteng utama dalam mencetak generasi yang cerdas, kritis, dan berkarakter.
Pesan itu disampaikannya saat menghadiri Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Strategi Pengembangan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (SPP-TIK) melalui program Replikasi Mandiri Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, Selasa (2/6/2026), yang diikuti pengelola perpustakaan daerah serta perpustakaan sekolah di Kota Padang.
Menurut Muhidi, literasi tidak lagi sekadar aktivitas membaca buku, melainkan kemampuan memahami, menganalisis, dan menyaring berbagai informasi yang membanjiri ruang digital setiap hari.
“Literasi adalah pondasi utama lahirnya sumber daya manusia unggul. Masyarakat yang gemar membaca akan memiliki kemampuan berpikir kritis, sementara mereka yang minim literasi cenderung mudah terpengaruh informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perpustakaan harus terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Kehadiran perpustakaan digital dinilai menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari untuk menjangkau generasi muda yang akrab dengan teknologi.
Meski demikian, Muhidi menekankan bahwa kemajuan teknologi harus dibarengi dengan kemampuan masyarakat dalam memahami dan memverifikasi informasi yang diterima. Tanpa kemampuan literasi yang baik, derasnya arus informasi justru dapat menimbulkan berbagai persoalan sosial.
“Informasi saat ini bisa diakses hanya dalam hitungan detik. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu memilah mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan. Di sinilah literasi menjadi sangat penting,” katanya.
Muhidi juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah daerah untuk bersama-sama menciptakan ekosistem literasi yang kuat. Menurutnya, kebiasaan membaca harus ditanamkan sejak usia dini agar menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kuatnya budaya literasi juga berperan dalam menjaga generasi muda dari berbagai pengaruh negatif yang berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, nilai-nilai budaya Minangkabau yang berlandaskan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah harus tetap menjadi pegangan dalam membangun karakter generasi penerus.
“Ke depan, daerah ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, moral, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. Semua itu berawal dari budaya membaca yang kuat,” tegasnya.
Melalui penguatan perpustakaan dan budaya literasi, Muhidi optimistis Sumatera Barat mampu melahirkan generasi berkualitas yang siap menghadapi tantangan global sekaligus menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang menjadi identitas daerah.
