![]() |
| Anggota DPRD Sumbar Indra Catri saat sosper |
AGAM, politicnewss.id — Persoalan gizi masyarakat tidak selalu berawal dari hal besar. Kebiasaan sederhana di rumah, termasuk memilih garam yang mengandung iodium, dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan keluarga.
Pesan tersebut disampaikan Anggota DPRD Sumatera Barat, Indra Catri, saat mensosialisasikan Peraturan Daerah (Perda) Sumatera Barat Nomor 19 Tahun 2018 tentang Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) di Ladang Hutan, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Minggu (9/8/2026).
Di hadapan masyarakat, Indra Catri menekankan bahwa pencegahan GAKI perlu dimulai dari lingkungan keluarga. Menurutnya, masyarakat harus memiliki pengetahuan yang cukup agar mampu menentukan pilihan pangan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anggota keluarga.
"Iodium memang dibutuhkan dalam jumlah kecil, tetapi perannya sangat besar bagi tubuh. Karena itu, jangan sampai kebutuhan iodium diabaikan hanya karena dianggap sebagai hal sederhana," ujar Indra Catri.
Ia menjelaskan, kekurangan iodium dapat memberikan dampak terhadap kesehatan dan perkembangan manusia. Kondisi tersebut, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan gangguan fungsi tiroid, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan serta kualitas sumber daya manusia apabila terjadi dalam jangka panjang.
Indra Catri menyebut Perda Nomor 19 Tahun 2018 menjadi salah satu instrumen pemerintah daerah dalam memperkuat langkah pencegahan dan penanggulangan GAKI di Sumatera Barat.
Salah satu perhatian penting dalam penerapannya adalah memastikan masyarakat mendapatkan garam konsumsi yang memenuhi persyaratan kandungan iodium sesuai ketentuan.
"Jadi, masyarakat jangan hanya melihat garam dari harga atau kemasannya. Perhatikan juga apakah garam tersebut merupakan garam beriodium dan memenuhi standar," katanya.
Ia mengingatkan, pilihan masyarakat saat berbelanja kebutuhan dapur ikut menentukan kualitas kesehatan keluarga. Karena itu, edukasi mengenai garam beriodium perlu terus dilakukan secara berkelanjutan, terutama kepada keluarga yang menjadi lingkungan pertama dalam pembentukan pola hidup sehat.
Dalam kesempatan tersebut, warga juga diberi ruang untuk berdiskusi mengenai kebutuhan gizi keluarga, pola konsumsi sehari-hari, hingga langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah gangguan akibat kekurangan iodium.
Antusiasme warga terlihat dari sejumlah pertanyaan yang disampaikan selama sesi dialog. Sosialisasi pun tidak hanya berlangsung satu arah, tetapi menjadi ruang bertukar informasi antara masyarakat dan wakil rakyat.
Indra Catri menilai, keberhasilan program kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Kesadaran masyarakat untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian yang tidak kalah penting.
"Perda ini jangan hanya berhenti sebagai aturan. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat memahami dan menerapkannya. Mari mulai dari rumah, biasakan menggunakan garam beriodium sesuai standar untuk mendukung kesehatan keluarga dan menyiapkan generasi yang lebih berkualitas," tuturnya.
Ia berharap sosialisasi tersebut dapat meningkatkan kepedulian masyarakat Baso terhadap pemenuhan gizi sekaligus mendorong pola hidup sehat secara konsisten.
Menurutnya, masyarakat yang sehat merupakan modal utama dalam membangun Sumatera Barat yang memiliki sumber daya manusia kuat, produktif, dan berdaya saing.
