![]() |
| Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri saat reses di SMAN 12 Padang |
PADANG, politicnewss.id — Persoalan sarana dan prasarana menjadi perhatian serius SMAN 12 Padang, Nanggalo, setelah sekolah tersebut berulang kali terdampak banjir. Dalam kunjungan resesnya, Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman, turun langsung mendengar berbagai kebutuhan sekolah, mulai dari mobiler, air bersih, hingga fasilitas olahraga.
Kunjungan tersebut berlangsung Jumat (21/8/2026), sebagai bagian dari reses perseorangan DPRD Sumbar masa persidangan ketiga Tahun Sidang 2025-2026.
Dalam pertemuan itu, guru dan siswa menyampaikan sejumlah persoalan yang selama ini mereka hadapi. Salah satunya kebutuhan meja, kursi, dan loker guru yang rusak setelah terendam banjir.
“Kami memerlukan meja dan kursi baru, Pak. Fasilitas yang lama sudah tidak layak pakai karena terendam lumpur saat banjir bandang kemarin,” ujar salah seorang guru.
Banjir yang terjadi pada November lalu meninggalkan dampak cukup berat. Selain merendam sejumlah fasilitas sekolah, air juga membawa material lumpur yang mengendap di lingkungan sekolah.
Pihak sekolah mengapresiasi perhatian Evi Yandri yang sebelumnya juga telah datang meninjau kondisi sekolah saat proses pembersihan pascabencana.
“Saat pembersihan lumpur pascabencana, Pak Evi langsung datang meninjau ke sini. Kami sangat berterima kasih atas kepedulian beliau. Tahun ini kami juga menerima bantuan laptop dari dana pokok pikiran (pokir) Pak Evi,” kata guru lainnya.
Persoalan banjir hingga kini masih menjadi kekhawatiran. SMAN 12 Padang bahkan kembali terdampak banjir pada 3 Agustus lalu, meski air kali ini relatif cepat surut.
“Pak, mohon dicarikan solusi agar sekolah dan jalan akses ke sini tidak banjir lagi. Kami kesulitan untuk datang belajar,” keluh seorang siswa.
Tak hanya banjir, persoalan air bersih juga menjadi keluhan yang cukup menonjol. Siswa mengaku air yang tersedia di sekolah terkadang keruh dan berbau besi, bahkan tidak mengalir.
“Air sekolah keruh dan berbau besi. Bahkan kadang tidak ada air. Padahal sangat dibutuhkan untuk berwudu dan keperluan toilet,” ungkap seorang siswi.
Untuk memenuhi kebutuhan lebih dari seribu siswa dan guru, pihak sekolah telah membuat empat sumur bor dengan kedalaman hingga sekitar 60 meter. Namun, kualitas air yang dihasilkan belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan.
“Kalau menggunakan layanan PDAM airnya jernih, tetapi alirannya sering mati sehingga tidak cukup memenuhi kebutuhan sekolah,” jelas seorang guru.
Kebutuhan lainnya adalah fasilitas olahraga. Sebagian besar lahan yang sebelumnya digunakan sebagai lapangan kini telah dimanfaatkan untuk pembangunan gedung baru.
Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada proses akreditasi sekolah yang dijadwalkan pada 2027 mendatang.
“Tahun 2027 kami menghadapi penilaian akreditasi sekolah. Tanpa lapangan olahraga yang layak, nilai akreditasi kami terancam turun,” ujar guru olahraga.
Keterbatasan lapangan juga membuat kegiatan olahraga dan ekstrakurikuler tidak berjalan maksimal. Untuk futsal dan basket, misalnya, siswa harus menyewa lapangan di luar sekolah dengan biaya yang harus ditanggung secara mandiri.
“Sewa lapangan futsal mencapai Rp200 ribu per jam. Kasihan siswa yang punya semangat tinggi untuk berolahraga,” tambahnya.
Selain fasilitas utama, siswa juga berharap adanya dukungan untuk kegiatan ekstrakurikuler, seperti peralatan musik tradisional talempong dan tenda untuk kegiatan PMR.
Mendengar berbagai aspirasi tersebut, Evi Yandri meminta sekolah menyiapkan perencanaan pembangunan yang terarah dan berkelanjutan.
“Harus ada master plan yang jelas. Jangan sampai saat kepala sekolah berganti, kebijakannya ikut berubah. Itu akan menyulitkan pembangunan,” tegas Evi.
Ia mengatakan, berbagai persoalan yang disampaikan sekolah akan dibawa untuk dibahas bersama Dinas Pendidikan Sumbar. Mulai dari perbaikan fasilitas terdampak bencana, pengadaan mobiler, penyediaan lapangan olahraga hingga persoalan air bersih akan diupayakan pemenuhannya secara bertahap sesuai kemampuan anggaran.
“Semua aspirasi ini akan kita komunikasikan dengan Dinas Pendidikan. Kita ingin kebutuhan sekolah dipetakan dengan jelas, kemudian diperjuangkan secara bertahap,” ujarnya.
Di sela pertemuan, Evi Yandri juga menanyakan pandangan siswa terkait keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa kompak menyatakan dukungan agar program tersebut tetap dilanjutkan, namun berharap kualitas makanan semakin ditingkatkan.
“Kami ingin program ini lanjut, Pak. Namun kualitasnya harus diperbaiki. Menunya jangan telur terus-menerus, dan kebersihannya harus dijaga,” ujar seorang siswa.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Kabid Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Sumbar Mahyan, pengawas sekolah, serta Sekcam Nanggalo.
Bagi SMAN 12 Padang, reses tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan langsung berbagai kebutuhan sekolah. Aspirasi yang muncul tidak hanya berkaitan dengan pemulihan pascabencana, tetapi juga menyangkut upaya menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman, sehat dan mendukung aktivitas siswa.
