Iklan

Batagak Pangulu di Bukittinggi, Gubernur Mahyeldi Soroti Krisis Moral Generasi Muda Minangkabau

Minggu, 17 Mei 2026, 9:37:00 PM WIB Last Updated 2026-05-30T06:47:34Z

 

Gubernur Mahyeldi saat batagak penghulu

BUKITTINGGI, politicnewss.id — Prosesi Batagak Pangulu di Nagari Guguak Panjang, Kota Bukittinggi, Minggu (17/5/2026), menjadi momentum penting bagi Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah untuk mengingatkan ancaman serius yang kini dihadapi generasi muda Minangkabau, mulai dari degradasi moral, narkoba, hingga pengaruh negatif perkembangan teknologi.


Dalam acara pengangkatan Zulhamdi Nova Candra IB, A.Md sebagai Datuak Nagari Labiah, Mahyeldi menegaskan jabatan panghulu bukan sekadar simbol adat atau gelar kebesaran kaum, melainkan amanah besar menjaga marwah nagari dan membina anak kemenakan di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.


Baca Juga : Pemprov Sumbar Siapkan Sekolah Berasrama, Mahyeldi: Cetak Generasi Unggul dan Berkarakter


Baca Juga : Bank Nagari Masuk Daftar Bank Terbaik Dunia Versi Forbes, Gubernur Mahyeldi Beri Apresiasi Tinggi


“Kalau generasi mudanya hancur, maka hancurlah suatu nagari,” tegas Mahyeldi di hadapan niniak mamak dan tokoh masyarakat yang hadir.


Menurut Mahyeldi, seorang panghulu harus menjadi figur teladan yang dipercaya masyarakat. Ia menekankan filosofi adat Minangkabau mengajarkan bahwa gelar datuak hanya diberikan kepada sosok yang benar-benar layak dan mampu memimpin kaumnya.


“Pangulu ditunjuak urang nan dipicayo, gala tibo di urang nan bana,” ujar Mahyeldi.


Ia menilai tantangan niniak mamak saat ini jauh lebih berat dibanding masa lalu. Selain menjaga adat dan persatuan kaum, para pemimpin adat juga dituntut aktif membentengi generasi muda dari perilaku menyimpang seperti pergaulan bebas, lemahnya pemahaman agama, hingga penyalahgunaan narkoba.


Mahyeldi juga mengingatkan pentingnya memperkuat nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) sebagai fondasi utama kehidupan masyarakat Minangkabau.


“Panghulu bersama niniak mamak harus hadir membina dan menyosialisasikan nilai ABS-SBK serta adat salingka nagari kepada generasi muda,” katanya.


Gubernur Sumbar itu menegaskan persoalan moral generasi muda tidak bisa dibebankan hanya kepada panghulu atau niniak mamak. Dibutuhkan kolaborasi seluruh unsur masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, alim ulama, cadiak pandai, hingga bundo kanduang agar identitas budaya Minangkabau tetap terjaga.


Baca Juga : Wagub Vasko Panaskan Mesin OPD, Sumbar Bersiap “Serbu” Program Pusat 2027


Baca Juga : 10 Ribu Kasus TBC di Sumbar Belum Tertangani, Gubernur Mahyeldi: Kita Harus Bergerak Bersama


“Jangan jadikan perbedaan peran sebagai sumber kelemahan yang memecah belah. Jadikan itu kekuatan bersama membangun nagari,” ujarnya.


Sementara itu, Zulhamdi Nova Candra Datuak Nagari Labiah menyatakan siap menjalankan amanah sebagai panghulu suku Jambak dan berkomitmen memperkuat pembinaan terhadap anak kemenakan di Kurai Limo Jorong.


“Insya Allah apa yang disampaikan Pak Gubernur menjadi cita-cita kami di nagari untuk menjaga adat dan generasi penerus,” katanya.

Komentar

Tampilkan

  • Batagak Pangulu di Bukittinggi, Gubernur Mahyeldi Soroti Krisis Moral Generasi Muda Minangkabau
  • 0

Terkini