Iklan

Festival Sipak Rago Sumbar Kembali Bergulir, Evi Yandri Ajak Generasi Muda Rawat Warisan Budaya Minangkabau

Sabtu, 11 Juli 2026, 6:34:00 PM WIB Last Updated 2026-07-13T05:28:37Z
Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri 


PADANG, politicnewss.id – Semangat melestarikan budaya Minangkabau kembali menggema melalui Festival Sipak Rago se-Sumatera Barat yang memperebutkan Piala Bergilir Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman. Ajang budaya yang telah menjadi agenda tahunan ini resmi dibuka di Gedung Rohana Kudus, Kota Padang, Sabtu (11/7/2026), dengan diikuti 28 tim dari berbagai kabupaten dan kota di Sumbar.


Mengusung tema "Lestarikan Budaya dengan Permainan Anak Nagari Sipak Rago", festival tersebut menjadi wadah untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional yang sarat filosofi kepada generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi.


Dalam sambutannya, Evi Yandri menegaskan komitmennya untuk terus menjaga eksistensi Sipak Rago sebagai salah satu warisan budaya Minangkabau yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.


Menurutnya, penyelenggaraan festival tahun ini menjadi momentum penting karena merupakan pelaksanaan kelima yang didukung melalui dana pokok pikiran (pokir) DPRD Sumbar. Ia mengungkapkan, kegiatan tersebut sebenarnya telah dimulai sejak 2015 dengan keterbatasan anggaran sebelum akhirnya mendapat dukungan penuh melalui APBD.


"Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah, tetapi harus diwujudkan melalui kegiatan nyata yang melibatkan masyarakat, terutama generasi muda," ujar Evi.


Ia menjelaskan, Sipak Rago bukan sekadar permainan tradisional, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur yang membedakannya dengan olahraga sepak takraw modern. Jika sepak takraw menitikberatkan persaingan untuk mengalahkan lawan, Sipak Rago justru mengedepankan kerja sama, kekompakan, saling membantu, dan menjaga bola tetap berada di udara selama mungkin.


Nilai kebersamaan tersebut, lanjutnya, mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi gotong royong, solidaritas, serta saling mendukung antarsesama.


Tak hanya memiliki nilai budaya, Sipak Rago juga menyimpan sejarah perjuangan. Pada masa penjajahan Belanda, permainan ini dimanfaatkan para pemuda Minangkabau sebagai cara menyamarkan latihan ketangkasan dan bela diri sehingga tidak menimbulkan kecurigaan penjajah.


"Di balik permainan ini tersimpan semangat perjuangan. Saat itu para pemuda berlatih kelincahan dan silat melalui Sipak Rago karena latihan bela diri dilarang oleh pemerintah kolonial," ungkapnya.


Upaya pelestarian budaya tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar yang diwakili Kepala Museum Adityawarman, Tuti Alawiyah, menyebut Sipak Rago merupakan bagian penting dari identitas budaya Minangkabau yang harus terus diwariskan.


Ia menilai festival seperti ini menjadi langkah konkret untuk memperkenalkan permainan tradisional kepada generasi muda sekaligus menjaga nilai sejarah, sportivitas, dan kedisiplinan yang terkandung di dalamnya.


Apresiasi juga datang dari Camat Kuranji, Rozaldi Rosman. Menurutnya, festival ini menjadi ruang positif bagi masyarakat dan anak nagari untuk mempertahankan tradisi lokal di tengah perkembangan zaman.


Selain menjadi ajang pelestarian budaya, Festival Sipak Rago tahun ini juga menghadirkan persaingan antartim dalam memperebutkan total hadiah sebesar Rp29,5 juta. Pembukaan festival ditandai dengan tendangan bola pertama oleh Evi Yandri Rajo Budiman bersama unsur Forkopimda, LPM, Babinsa, serta para tamu undangan yang hadir. 

Komentar

Tampilkan

  • Festival Sipak Rago Sumbar Kembali Bergulir, Evi Yandri Ajak Generasi Muda Rawat Warisan Budaya Minangkabau
  • 0

Terkini