Iklan

Kuliner Jadi Kekuatan Baru, Pemprov Sumbar Dukung Padang Menuju Kota Gastronomi Dunia

Sabtu, 08 Agustus 2026, 2:20:00 PM WIB Last Updated 2026-08-08T07:20:26Z

 

Kegiatan Padang Bajamba: Taste of Padang Experience 2026 bertajuk “Road to Gastronomy City”, yang digelar dalam rangkaian Hari Jadi Kota Padang ke-357


PADANG, politicnewss.id — Aroma rendang, gulai, lamang sarikayo hingga beragam sajian khas Minangkabau tidak lagi sekadar menjadi identitas kuliner Sumatera Barat. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melihat kekayaan tersebut sebagai kekuatan besar yang dapat menggerakkan ekonomi, pariwisata sekaligus menjaga warisan budaya.


Dukungan itu mengemuka dalam kegiatan Padang Bajamba: Taste of Padang Experience 2026 bertajuk “Road to Gastronomy City”, yang digelar dalam rangkaian Hari Jadi Kota Padang ke-357 di Gedung Bagindo Aziz Chan, Jumat (7/8/2026).


Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah melalui Staf Ahli Gubernur Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Jasman Datuak Bandaro Bendang, menyampaikan bahwa perjalanan Padang menuju kota gastronomi membutuhkan kerja bersama dan tidak cukup hanya mengandalkan ketenaran masakan Padang.


Menurut Mahyeldi, gastronomi memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar aktivitas menikmati makanan. Di dalamnya terdapat keterkaitan antara pangan, budaya, pertanian, perikanan, perdagangan, pariwisata, kesehatan, lingkungan hingga ekonomi kreatif.


“Membangun Padang sebagai kota gastronomi berarti membangun sebuah ekosistem. Mulai dari bahan pangan yang dihasilkan petani dan nelayan, proses pengolahan, penyajian, pelayanan, sampai cerita budaya yang melekat pada setiap hidangan,” ujar Mahyeldi dalam sambutan yang dibacakan Jasman.


Ia menilai popularitas kuliner Minangkabau yang telah dikenal luas merupakan modal penting. Namun, popularitas tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kualitas agar mampu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.


“Popularitas adalah modal awal, bukan tujuan akhir. Yang paling penting adalah bagaimana kuliner Padang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat usaha lokal dan tetap menjaga warisan budaya,” katanya.


Mahyeldi juga memberikan dukungan terhadap langkah Kota Padang menuju Jejaring Kota Kreatif UNESCO bidang gastronomi. Menurutnya, upaya tersebut harus dimaknai sebagai proses membangun kualitas dan ekosistem, bukan sekadar mengejar sebuah predikat internasional.


Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas UMKM, pemberian ruang kepada generasi muda, pemanfaatan bahan pangan lokal, keamanan pangan serta pengelolaan lingkungan.


“UMKM harus naik kelas, generasi muda harus mendapatkan ruang untuk berkreasi, bahan pangan lokal harus semakin bernilai, makanan harus aman dan lingkungan harus tetap dijaga,” tuturnya.


Lebih jauh, Mahyeldi mengingatkan bahwa kekuatan gastronomi tidak hanya berada di balik meja restoran. Ada rantai panjang yang ikut menentukan keberlangsungan sebuah hidangan, mulai dari petani, nelayan, peternak, pedagang, juru masak hingga keluarga yang selama bertahun-tahun mempertahankan resep warisan leluhur.


Karena itu, pengetahuan mengenai kuliner tradisional dinilai perlu terus dicatat, dikembangkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


“Di balik satu piring makanan ada begitu banyak orang yang bekerja dan ada begitu banyak cerita budaya yang harus kita jaga. Pengetahuan itu harus diwariskan melalui keluarga, sekolah, perguruan tinggi, komunitas dan lembaga adat,” katanya.


Aspek keamanan pangan juga menjadi perhatian. Pemerintah mendorong pelaku usaha kuliner untuk terus meningkatkan kebersihan tempat pengolahan, kualitas bahan baku, kesehatan pekerja, kemasan, informasi harga serta kualitas pelayanan.


Langkah tersebut penting agar pertumbuhan industri gastronomi tidak hanya menguntungkan pelaku usaha di pusat kota, tetapi juga memberikan dampak langsung kepada masyarakat di daerah penghasil pangan.


“Gastronomi harus menjadi mata rantai ekonomi yang manfaatnya dirasakan dari hulu sampai hilir,” ujar Mahyeldi.


Ia berharap Padang Bajamba dan Taste of Padang Experience 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Festival kuliner harus menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk memperkenalkan produk, memperkuat merek dan membuka pasar yang lebih luas.


Pemerintah daerah, katanya, juga perlu memperkuat pendampingan bagi pelaku usaha melalui sertifikasi, pengembangan kemasan, pemasaran digital, perizinan, pengelolaan keuangan hingga akses pembiayaan.


Konsep wisata kuliner pun diharapkan semakin berkembang. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati makanan, tetapi juga diajak mengenal pasar tradisional, melihat bahan baku, belajar proses memasak, memahami sejarah makanan serta merasakan langsung tradisi masyarakat Minangkabau.


“Padang memiliki peluang besar mengembangkan jalur wisata kuliner, kelas memasak, kunjungan pasar, pengalaman makan bajamba hingga pengembangan produk oleh-oleh. Semakin banyak pengalaman yang diberikan, semakin besar pula peluang wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di masyarakat,” katanya.


Sementara itu, Wali Kota Padang Fadly Amran Datuak Paduko Malano menilai Padang Bajamba memiliki pesan budaya yang sangat kuat. Tradisi makan bersama tersebut tidak hanya berbicara tentang makanan, tetapi juga mengajarkan persaudaraan, kesetaraan, gotong royong dan rasa syukur.


“Ketika kita duduk bersama dalam satu hidangan, sekat-sekat jabatan dan status sosial menjadi hilang. Yang hadir adalah kebersamaan, saling menghormati dan semangat mempererat silaturahmi,” ujar Fadly.


Menurutnya, filosofi “Duduk sama rendah, tegak sama tinggi” menjadi salah satu nilai yang harus terus dirawat dalam perjalanan pembangunan Kota Padang.


Kemajuan sebuah kota, kata Fadly, bukan hanya terlihat dari gedung dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan budaya dan membangun kebersamaan.


Karena itu, momentum “Padang: Road to Gastronomy City” dinilai sebagai kesempatan untuk membawa kekayaan kuliner Minangkabau semakin dikenal dunia tanpa mencabutnya dari akar tradisi.


“Rendang, gulai, lamang sarikayo dan kuliner lainnya bukan hanya soal rasa. Di dalamnya ada sejarah, adat, filosofi dan kearifan masyarakat. Setiap hidangan mempunyai jiwa dan cerita yang layak kita kenalkan kepada dunia,” katanya.


Fadly juga melihat keterlibatan mahasiswa dari berbagai negara dalam kegiatan tersebut sebagai peluang memperkenalkan kebudayaan Minangkabau secara lebih luas. Interaksi langsung dinilai mampu menjadi jembatan bagi masyarakat internasional untuk mengenal Padang bukan hanya melalui makanannya, tetapi juga melalui nilai, tradisi dan keramahan masyarakatnya.


Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Haji dan Umrah Muhammad Irfan Yusuf, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Denny Abdi, Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir, unsur pimpinan DPRD, Forkopimda, jajaran pemerintah daerah, tokoh adat, akademisi, budayawan, pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif, pengusaha kuliner, petani, nelayan, pedagang pasar serta pelaku UMKM.


Dari meja bajamba, Padang kini membawa sebuah pesan yang lebih besar: kuliner bukan hanya warisan yang dinikmati, tetapi kekuatan yang dapat menghubungkan budaya, ekonomi dan pariwisata. Dari cita rasa lokal, Padang tengah menyiapkan langkah menuju panggung gastronomi dunia.

Komentar

Tampilkan

  • Kuliner Jadi Kekuatan Baru, Pemprov Sumbar Dukung Padang Menuju Kota Gastronomi Dunia
  • 0

Terkini