![]() |
| 14 siswa SMP terlihat mengikuti ujian berbasis komputer (CBT) di bawah tenda darurat |
LIMAPULUH KOTA, politicnewss.id — Ketimpangan akses digital di Sumatera Barat kembali menjadi sorotan setelah video perjuangan siswa di Nagari Galugua, Kabupaten Lima Puluh Kota, viral di media sosial. Dalam video tersebut, sebanyak 14 siswa SMP terlihat mengikuti ujian berbasis komputer (CBT) di bawah tenda darurat, setelah menempuh perjalanan sejauh 6 kilometer hanya untuk mendapatkan sinyal internet.
Kondisi ini bukan sekadar potret sesaat, melainkan realitas yang telah lama dihadapi masyarakat setempat. Minimnya infrastruktur jaringan membuat wilayah Galugua masuk kategori blank spot, sehingga aktivitas pendidikan berbasis digital menjadi tantangan berat, khususnya bagi para pelajar.
Baca Juga : Layanan Air Bersih di Padang Berangsur Pulih, Menteri PU Lakukan Peninjauan
Dalam pelaksanaan ujian, para siswa harus bertahan di bawah terik matahari dengan fasilitas seadanya. Jaringan yang tidak stabil kerap menghambat proses ujian. Bahkan, menurut keterangan guru pendamping, para siswa sering kali harus menunggu berjam-jam hingga sistem dapat terhubung.
“Kadang mereka sudah datang pagi, tapi baru bisa mulai ujian siang hari karena sinyal tidak muncul,” ungkap salah satu guru yang mendampingi pelaksanaan ujian tersebut.
Viralnya video ini memicu perhatian luas, termasuk dari kalangan legislatif. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, langsung mengambil langkah cepat dengan menggelar pertemuan bersama jajaran pimpinan Telkomsel di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Andre menegaskan bahwa akses telekomunikasi merupakan kebutuhan dasar di era digital, terlebih untuk mendukung sektor pendidikan. Ia meminta Telkomsel segera merealisasikan pembangunan menara BTS di Nagari Galugua agar persoalan ini tidak berlarut-larut.
“Ini bukan sekadar soal jaringan, tapi masa depan anak-anak kita. Mereka tidak boleh tertinggal hanya karena keterbatasan sinyal,” tegas Andre.
Menanggapi hal tersebut, pihak Telkomsel melalui Direktur Utamanya menyampaikan permohonan maaf atas kondisi blank spot yang terjadi. Mereka memastikan komitmen untuk segera menurunkan tim teknis guna melakukan survei dan percepatan pembangunan infrastruktur jaringan.
Telkomsel menargetkan pembangunan tower BTS di Nagari Galugua dapat diselesaikan dalam waktu paling lambat tiga bulan. Proses ini akan mencakup tahapan survei lokasi, perizinan, hingga pembangunan fisik menara.
Jika target tersebut terealisasi, diharapkan masyarakat Galugua tidak lagi mengalami kesulitan dalam mengakses jaringan telekomunikasi. Khususnya bagi para pelajar, kehadiran BTS akan menjadi solusi penting agar mereka dapat mengikuti pembelajaran dan ujian secara layak tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Baca Juga : Pemprov Sumbar Gelar Rakor Pemutakhiran Data Dokumen R3P
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, masih ada wilayah yang tertinggal dalam hal akses. Pemerataan infrastruktur telekomunikasi pun menjadi pekerjaan rumah bersama agar tidak ada lagi anak bangsa yang terhambat meraih pendidikan hanya karena keterbatasan jaringan.
