Iklan

Pemprov Sumbar Tuntaskan Pemulihan Sawah Terdampak Bencana, Fokus Bergeser ke Lahan Hilang dan Rusak Berat

Rabu, 13 Mei 2026, 9:34:00 PM WIB Last Updated 2026-05-30T06:54:00Z

 

Kegiatan tanam padi serentak 

PADANG PARIAMAN, politicnewss.id — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memastikan rehabilitasi lahan pertanian yang mengalami kerusakan ringan dan sedang akibat bencana hidrometeorologi telah rampung sepenuhnya. Kini, perhatian pemerintah mulai diarahkan pada penanganan ribuan hektare lahan rusak berat hingga sawah yang hilang akibat banjir dan longsor.


Kepastian itu disampaikan Gubernur Mahyeldi Ansharullah saat menghadiri kegiatan tanam padi serentak di Korong Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu (13/5/2026).


Mahyeldi menyebut proses percepatan rehabilitasi lahan pertanian terdampak bencana berhasil diselesaikan sesuai target pemerintah pusat. Penanaman yang dilakukan hari ini menjadi penanda seluruh lahan kategori rusak ringan dan sedang sudah kembali produktif.


Baca Juga : Gubernur Mahyeldi Ingatkan Ranperda Harus Realistis dan Benar Benar Menjawab Kebutuhan Masyarakat


Baca Juga : Gubernur Mahyeldi dan TNI Bahas Evaluasi Penanganan Bencana Sumbar


Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, Balai Wilayah Sungai Sumatera V, hingga pemerintah kabupaten dan kota terdampak bencana. Untuk pemulihan lahan itu, Kementerian Pertanian menggelontorkan anggaran mencapai Rp32,9 miliar.


“Alhamdulillah, seluruh target rehabilitasi untuk kategori rusak ringan dan sedang sudah selesai 100 persen. Ini menjadi langkah penting untuk memulihkan ketahanan pangan daerah,” ujar Mahyeldi.


Meski demikian, Pemprov Sumbar kini menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Sedikitnya sekitar 7.000 hektare lahan pertanian tercatat mengalami kerusakan berat, termasuk lebih dari 4.000 hektare sawah yang hilang akibat tersapu banjir, longsor, hingga berubah menjadi aliran sungai.


Mahyeldi menegaskan penanganan lahan rusak berat tidak bisa dilakukan hanya oleh Kementerian Pertanian, tetapi membutuhkan keterlibatan lintas kementerian, terutama Kementerian Pekerjaan Umum dan instansi terkait lainnya.


“Sebagian sawah sudah berubah menjadi sungai dan ada yang hilang karena longsor. Penanganannya tentu lebih kompleks dan membutuhkan dukungan lintas sektor,” katanya.


Di tengah proses pemulihan pascabencana, Sumbar juga dihadapkan pada ancaman musim kering dan potensi El Nino yang diperkirakan mulai terasa pada akhir Juni hingga Juli mendatang. Pemerintah daerah diminta mempercepat masa tanam agar produksi pangan tidak terganggu.


Mahyeldi mengatakan pemerintah saat ini tengah melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan sekaligus menyiapkan langkah antisipasi agar stok pangan tetap aman menghadapi musim kemarau.


Selain ancaman kekeringan, risiko bencana hidrometeorologi juga masih menghantui sejumlah wilayah di Sumbar. Curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir bahkan masih memicu longsor dan kerusakan infrastruktur di sejumlah daerah.


“Di Agam kemarin masih terjadi longsor dan jalan putus. Artinya kita harus tetap waspada dan bergerak cepat mengurangi risiko bencana berikutnya,” ujarnya.


Sementara itu, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian RI, Tedy Dirhamsyah, memberikan apresiasi atas kecepatan Sumbar memulihkan sektor pertanian pascabencana. Ia menyebut Sumbar menjadi daerah dengan progres rehabilitasi terbaik dibanding provinsi terdampak lain seperti Aceh dan Sumatera Utara.


Menurut Tedy, dari total 3.902 hektare lahan rusak ringan dan sedang di Sumbar, seluruhnya telah berhasil direhabilitasi. Capaian itu jauh melampaui rata-rata progres nasional yang masih berada di kisaran 14 persen.


“Sumbar menjadi daerah tercepat dan paling progresif dalam pemulihan lahan pertanian terdampak bencana. Ini capaian luar biasa,” katanya.


Kementerian Pertanian, lanjutnya, juga telah menyiapkan sejumlah program menghadapi ancaman El Nino, seperti irigasi perpompaan dan pembangunan sumur air dalam. Daerah diminta segera mengajukan kebutuhan agar penanganan bisa dipercepat.


Di sisi lain, Bupati John Kenedy Azis mengungkapkan bencana banjir dan longsor memberi dampak besar terhadap sektor pertanian di Padang Pariaman.


Total sawah terdampak di daerah itu mencapai 1.263,4 hektare, terdiri dari ratusan hektare rusak ringan, rusak sedang, rusak berat, hingga sawah yang hilang terbawa arus sungai. Selain itu, ratusan hektare lahan jagung juga mengalami kerusakan.


Baca Juga : Wisuda Tahfiz Ar Risalah, Sekdaprov Sumbar Tekankan Generasi Cerdas Berakhlak


Baca Juga : DPRD Ketok Palu! Modal Jamkrida Sumbar Diperkuat, Peluang UMKM Melejit


John Kenedy Azis mengatakan seluruh sawah kategori rusak ringan sudah berhasil ditangani. Namun untuk lahan rusak berat dan sawah yang hilang, hingga kini belum ada alokasi bantuan lanjutan dari pemerintah pusat.


“Kami berharap bantuan untuk lahan rusak berat dan sawah hilang bisa segera direalisasikan agar sektor pertanian masyarakat kembali pulih,” ujarnya.

Komentar

Tampilkan

  • Pemprov Sumbar Tuntaskan Pemulihan Sawah Terdampak Bencana, Fokus Bergeser ke Lahan Hilang dan Rusak Berat
  • 0

Terkini