![]() |
| Jembatan Bailey rampung pengerjaan kendaraan sudah dapat melewati |
TANAH DATAR, politicnewss.id – Implementasi dana Transfer ke Daerah (TKD) yang dimanfaatkan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk percepatan penanganan pascabencana mulai menunjukkan hasil nyata. Setelah terputus selama satu setengah bulan akibat banjir bandang, akses utama penghubung Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Sijunjung kini kembali terbuka. Kehadiran Jembatan Bailey tak hanya memulihkan jalur transportasi, tetapi juga menghidupkan kembali denyut perekonomian masyarakat yang sempat lumpuh.
Sejak resmi dibuka pada 9 Juli 2026, arus kendaraan kembali ramai melintasi ruas Jalan Sitangkai–Tanjung Ampalu. Truk pengangkut hasil pertanian, bus penumpang, kendaraan logistik, hingga pelajar yang sebelumnya harus memutar puluhan kilometer kini kembali menikmati jalur yang lebih singkat.
Kepala UPTD Workshop dan Peralatan Dinas BMCKTR Sumbar, Mitra Hengki, mengatakan pembangunan Jembatan Bailey merupakan bentuk nyata percepatan pemanfaatan dana TKD sesuai arahan Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur Vasko Ruseimy agar masyarakat segera dapat kembali beraktivitas.
"Total anggaran pembangunan Jembatan Bailey beserta pemasangannya mencapai Rp4,9 miliar. Ini merupakan tindak lanjut komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk mempercepat pemanfaatan dana TKD dalam penanganan bencana sehingga masyarakat dapat kembali lancar beraktivitas secepat mungkin," ujar Mitra Hengki, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, jembatan sepanjang 42 meter dengan lebar 4,2 meter tersebut mampu menopang kendaraan berbobot hingga 15–20 ton, sehingga distribusi barang dan mobilitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.
"Perakitan jembatan dimulai pada 6 Juli dan hanya dalam tiga hari, tepatnya 9 Juli, sudah bisa dilalui masyarakat. Tahapan yang paling memakan waktu adalah pembangunan pondasi tapak jembatan yang dikerjakan secara swakelola," katanya.
Menurut Mitra Hengki, pembangunan Jembatan Bailey merupakan solusi cepat sambil menunggu pembangunan jembatan permanen yang diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp25 miliar.
"Meski bersifat sementara, Jembatan Bailey memiliki daya tahan yang cukup lama dan dapat digunakan bertahun-tahun dengan kapasitas beban hingga 15 sampai 20 ton. Ini menjadi bukti bahwa Pemprov Sumbar hadir dan bergerak cepat ketika masyarakat membutuhkan," tegasnya.
Sebelumnya, jembatan lama putus diterjang banjir bandang pada 20 Mei 2026. Akibatnya, masyarakat harus memutar melalui jalur alternatif sejauh hampir 20 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Kondisi itu berdampak besar terhadap aktivitas pendidikan, distribusi hasil pertanian, hingga usaha masyarakat.
Wali Nagari Taluk, Pendi Aswil, mengatakan putusnya akses jalan membuat roda ekonomi warga nyaris berhenti total.
"Selama akses terputus, perekonomian masyarakat praktis lumpuh. Banyak pelaku UMKM memilih menutup usahanya karena aktivitas ekonomi berhenti. Sekarang setelah Jembatan Bailey dibuka, usaha masyarakat mulai berjalan kembali dan ekonomi kembali bergerak," ungkap Pendi.
Ia mengapresiasi langkah cepat Pemprov Sumbar yang dinilai sigap merespons kebutuhan masyarakat pascabencana dengan membangun akses penghubung dalam waktu relatif singkat.
Kebangkitan ekonomi juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha di sekitar lokasi jembatan. Rela Islamiah (26), pemilik warung di dekat jembatan, mengaku omzetnya kembali meningkat setelah arus kendaraan kembali normal.
"Alhamdulillah, sekarang sudah ada lagi uang yang berputar setiap hari dari hasil jualan kami. Kami sangat berterima kasih karena jembatan ini membuat masyarakat kembali bisa beraktivitas seperti biasa," tuturnya.
Hal serupa disampaikan It (60), pemilik Rumah Makan Elok Basamo. Ia mengatakan rumah makannya kembali ramai sejak Jembatan Bailey difungsikan.
"Kami sudah buka lagi sejak jembatan beroperasi. Sopir-sopir truk yang dulu biasa singgah kini mulai kembali datang. Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, khususnya Bapak Gubernur Mahyeldi dan Bapak Wakil Gubernur Vasko Ruseimy, karena akses ini bisa cepat dibuka kembali. Masyarakat sangat terbantu karena sekarang bisa kembali menjalankan usaha," katanya.
Pulihnya akses Sitangkai–Tanjung Ampalu menjadi bukti bahwa percepatan pemanfaatan dana TKD tidak hanya menghadirkan infrastruktur darurat, tetapi juga mengembalikan aktivitas ekonomi, memperlancar distribusi logistik, serta membuka kembali harapan ribuan warga yang sempat terisolasi akibat bencana.
