![]() |
| Ketua Satuan Tugas (Satgas) NCH Nagari Pangian, Zilnovita Zainal |
TANAH DATAR, politicnewss.id — Program Nagari Creative Hub (NCH) yang digagas Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mulai memperlihatkan geliat nyata di tengah masyarakat. Di Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, keberadaan NCH perlahan menjelma menjadi ruang bersama untuk menggerakkan ekonomi, mengembangkan kreativitas generasi muda sekaligus menjaga denyut seni dan budaya nagari.
Tak hanya menjadi tempat berkumpul, NCH Pangian kini dimanfaatkan sebagai pusat aktivitas UMKM, ruang pelatihan masyarakat, pengembangan seni tradisi hingga pemasaran produk lokal melalui platform digital.
Program yang diinisiasi Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah bersama Wakil Gubernur Vasco Ruseimy tersebut diarahkan untuk membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat nagari agar mampu mengembangkan potensi lokal sekaligus mengikuti perubahan ekonomi di era digital.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) NCH Nagari Pangian, Zilnovita Zainal atau yang akrab disapa Elok Piko, mengatakan kehadiran fasilitas NCH telah memberikan ruang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai potensi yang selama ini dimiliki nagari.
Menurutnya, Pemprov Sumbar telah menghadirkan lima fasilitas utama sebagai penopang kegiatan NCH, yakni Teras Nagari sebagai pusat informasi potensi daerah, Lapau Nagari untuk mendukung pemasaran digital UMKM, Medan Balindung sebagai ruang pelatihan dan diskusi, Medan Nan Bapaneh sebagai pusat aktivitas seni budaya, serta fasilitas internet gratis.
“Sejak diluncurkan, seluruh fasilitas ini sudah dimanfaatkan masyarakat. Responsnya sangat positif karena masyarakat memiliki ruang untuk berkegiatan, belajar dan mengembangkan usaha,” ujar Elok Piko di Pangian, Rabu (29/7/2026).
Di sektor ekonomi, geliat pemasaran digital mulai dibangun. Sedikitnya enam produk unggulan UMKM Nagari Pangian secara rutin dipasarkan melalui akun TikTok Shop @nch.pangian setiap pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.
Produk yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari aneka sambalado, rendang belut, minuman kesehatan berbahan serai, lemon dan jahe, keripik pisang, kerajinan tangan, hingga produk kriya dan deta khas masyarakat setempat.
Elok menyebut potensi produk UMKM di Nagari Pangian sebenarnya masih jauh lebih besar. Persoalannya, tidak semua produk kuliner siap masuk ke pasar yang lebih luas karena masih terkendala daya simpan.
“Produk kita sebenarnya banyak dan potensinya besar. Tetapi tantangan kita bagaimana membuat produk makanan bisa bertahan lebih lama. Kalau daya simpannya pendek, tentu akan sulit untuk dipasarkan lebih jauh, apalagi secara nasional,” katanya.
Ia mencontohkan rendang belut yang memiliki daya tahan sekitar dua bulan. Sementara sejumlah produk kuliner lainnya masih membutuhkan sentuhan teknologi pangan, terutama dalam pengemasan dan pengawetan.
Karena itu, pengembangan UMKM di NCH Pangian tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi. Pelaku usaha juga didorong memahami teknologi pengolahan pangan agar produk lokal memiliki umur simpan lebih panjang, kemasan lebih menarik dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Yang kita butuhkan sekarang bukan hanya bisa membuat produk, tetapi bagaimana produk itu memiliki standar yang lebih baik sehingga bisa bertahan dan masuk ke pasar yang lebih besar,” tuturnya.
Transformasi digital juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Sebagian pelaku UMKM masih harus beradaptasi dengan teknologi, mulai dari membuat akun hingga menjalankan pemasaran melalui media sosial dan platform perdagangan digital.
Untuk mempercepat proses tersebut, Satgas NCH menggandeng mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Para mahasiswa ikut mendampingi pelaku UMKM dalam membuat akun TikTok, meningkatkan pengikut, melakukan live shopping, mengelola pesanan hingga menggunakan sistem pembayaran digital.
“Kami belajar sambil berjalan. Kehadiran mahasiswa KKN sangat membantu, terutama mengajarkan kami bagaimana live TikTok, mengelola pesanan dan memahami pembayaran secara digital,” ujar Elok.
Meski transaksi daring yang dihasilkan sejauh ini belum terlalu besar, menurutnya proses tersebut merupakan langkah awal yang penting. Bagi NCH Pangian, yang paling utama adalah membangun kebiasaan dan ekosistem pemasaran digital di tingkat nagari.
“Nilai penjualannya mungkin belum besar, tetapi kita tidak melihatnya hanya dari angka hari ini. Ini adalah proses membangun pasar dan kemampuan masyarakat agar ke depan bisa lebih mandiri,” katanya.
Sejumlah persyaratan administrasi juga masih harus dipenuhi pelaku UMKM agar produk dapat dipasarkan secara lebih luas melalui platform digital. Salah satunya terkait sertifikasi halal.
Di sisi lain, kebutuhan sumber daya manusia untuk menjadi host dalam kegiatan live shopping juga masih menjadi kendala. Generasi muda dinilai lebih cepat beradaptasi dengan teknologi, namun banyak di antaranya berada di luar daerah karena merantau.
“Kami masih kekurangan host untuk live shopping. Anak-anak muda memang lebih cepat menguasai teknologi, tetapi banyak yang merantau sehingga tidak selalu berada di kampung,” ungkapnya.
Padahal, sejumlah produk UMKM Pangian telah berhasil menembus pasar di luar nagari. Minuman kesehatan berbahan serai, lemon dan jahe serta rendang belut, misalnya, telah dipasarkan melalui salah satu pusat oleh-oleh di Kota Padang.
Namun, keberhasilan tersebut sekaligus membuka tantangan baru. Pelaku UMKM dituntut mampu menjaga kontinuitas produksi agar produk tidak terputus dari jaringan pemasaran.
“Persoalannya bukan semata-mata kualitas. Produk kita sudah memiliki pasar, tetapi produksinya harus konsisten. Kalau bahan baku habis atau produksi berhenti, produk bisa dikeluarkan dari jaringan pemasaran,” jelas Elok.
Di luar penguatan ekonomi, NCH Pangian juga menjadi ruang untuk merawat identitas budaya masyarakat. Berbagai aktivitas seperti latihan silek tradisi, randai, tari, sanggar senam dan kegiatan pemberdayaan masyarakat kini turut dipusatkan di kawasan NCH.
Program pelatihan yang didukung pemerintah nagari juga diarahkan untuk memperkuat aktivitas di pusat kreativitas tersebut. Dengan demikian, NCH tidak hanya berbicara soal UMKM dan pemasaran digital, tetapi juga bagaimana potensi sosial dan budaya nagari tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Harapan kami NCH ini benar-benar menjadi rumah bersama masyarakat. Bukan hanya tempat menjual produk, tetapi juga tempat anak muda berkegiatan, belajar, berkarya dan mengenal kembali budaya nagarinya,” pungkas Elok.
Program Nagari Creative Hub sendiri pada tahap awal dikembangkan Pemprov Sumbar melalui pilot project di tiga nagari, yakni Nagari Sikalang di Kota Sawahlunto, Nagari Toboh Gadang Barat di Kabupaten Padang Pariaman, dan Nagari Pangian di Kabupaten Tanah Datar.
Dari tiga lokasi tersebut, NCH diharapkan menjadi model pengembangan pusat kreativitas berbasis nagari yang mampu mempertemukan kekuatan ekonomi lokal, kreativitas anak muda, teknologi digital dan pelestarian budaya dalam satu ekosistem yang berkelanjutan.
